Sabtu, 08 November 2014

Pidato Wisudawan Terbaik,

0



Setiap acara wisuda di kampus selalu ada pidato sambutan dari salah seorang wisudawan. Biasanya yang terpilih memberikan pidato sambutan adalah pribadi yang unik, tetapi tidak selalu yang mempunyai IPK terbaik. Sepanjang yang saya pernah ikuti, isi pidatonya kebanyakan tidak terlalu istimewa, paling-paling isinya kenangan memorabilia selama menimba ilmu di kampus , kehidupan mahasiswa selama kuliah, pesan-pesan, dan ucapan terima kasih kepada dosen dan teman-teman civitas academica.

Beberapa hari yang lalu saya menerima kiriman surel dari teman di milis dosen yang isinya cuplikan pidato Erica Goldson (siswi SMA) pada acara wisuda di Coxsackie-Athens High School, New York, tahun 2010. Erica Goldson adalah wisudawan yang lulus dengan nilai terbaik pada tahun itu.

“Saya lulus. Seharusnya saya menganggapnya sebagai sebuah pengalaman yang menyenangkan, terutama karena saya adalah lulusan terbaik di kelas saya. Namun, setelah direnungkan, saya tidak bisa mengatakan kalau saya memang lebih pintar dibandingkan dengan teman-teman saya. Yang bisa saya katakan adalah kalau saya memang adalah yang terbaik dalam melakukan apa yang diperintahkan kepada saya dan juga dalam hal mengikuti sistem yang ada.

Di sini saya berdiri, dan seharusnya bangga bahwa saya telah selesai mengikuti periode indoktrinasi ini. Saya akan pergi musim dingin ini dan menuju tahap berikut yang diharapkan kepada saya, setelah mendapatkan sebuah dokumen kertas yang mensertifikasikan bahwa saya telah sanggup bekerja.

Tetapi saya adalah seorang manusia, seorang pemikir, pencari pengalaman hidup – bukan pekerja. Pekerja adalah orang yang terjebak dalam pengulangan, seorang budak di dalam sistem yang mengurung dirinya. Sekarang, saya telah berhasil menunjukkan kalau saya adalah budak terpintar. Saya melakukan apa yang disuruh kepadaku secara ekstrim baik. Di saat orang lain duduk melamun di kelas dan kemudian menjadi seniman yang hebat, saya duduk di dalam kelas rajin membuat catatan dan menjadi pengikut ujian yang terhebat.

Saat anak-anak lain masuk ke kelas lupa mengerjakan PR mereka karena asyik membaca hobi-hobi mereka, saya sendiri tidak pernah lalai mengerjakan PR saya. Saat yang lain menciptakan musik dan lirik, saya justru mengambil ekstra SKS, walaupun saya tidak membutuhkan itu. Jadi, saya penasaran, apakah benar saya ingin menjadi lulusan terbaik? Tentu, saya pantas menerimanya, saya telah bekerja keras untuk mendapatkannya, tetapi apa yang akan saya terima nantinya? Saat saya meninggalkan institusi pendidikan, akankah saya menjadi sukses atau saya akan tersesat dalam kehidupan saya?

Saya tidak tahu apa yang saya inginkan dalam hidup ini. Saya tidak memiliki hobi, karena semua mata pelajaran hanyalah sebuah pekerjaan untuk belajar, dan saya lulus dengan nilai terbaik di setiap subjek hanya demi untuk lulus, bukan untuk belajar. Dan jujur saja, sekarang saya mulai ketakutan…….”

Hmmm… setelah membaca pidato wisudawan terbaik tadi, apa kesan anda? Menurut saya pidatonya adalah sebuah ungkapan yang jujur, tetapi menurut saya kejujuran yang “menakutkan”. Menakutkan karena selama sekolah dia hanya mengejar nilai tinggi, tetapi dia meninggalkan kesempatan untuk mengembangkan dirinya dalam bidang lain, seperti hobi, ketrampilan, soft skill, dan lain-lain. Akibatnya, setelah dia lulus dia merasa gamang, merasa takut terjun ke dunia nyata, yaitu masyarakat. Bahkan yang lebih mengenaskan lagi, dia sendiri tidak tahu apa yang dia inginkan di dalam hidup ini.

Saya sering menemukan mahasiswa yang hanya berkutat dengan urusan kuliah semata. Obsesinya adalah memperoleh nilai tinggi untuk semua mata kuliah. Dia tidak tertarik ikut kegiatan kemahasiswaan, baik di himpunan maupun di Unit Kegiatan Mahasiswa. Baginya hanya kuliah, kuliah, dan kuliah. Memang betul dia sangat rajin, selalu mengerjakan PR dan tugas dengan gemilang. Memang akhirnya IPK-nya tinggi, lulus cum-laude pula. Tidak ada yang salah dengan obsesinya mengejar nilai tinggi, sebab semua mahasiswa seharusnya seperti itu, yaitu mengejar nilai terbaik untuk setiap kuliah. Namun, untuk hidup di dunia nyata seorang mahasiswa tidak bisa hanya berbekal nilai kuliah, namun dia juga memerlukan ketrampilan hidup semacam soft skill yang hanya didapatkan dari pengembangan diri dalam bidang non-akademis.

Nah, kalau mahasiswa hanya berat dalam hard skill dan tidak membekali dirinya dengan ketrampilan hidup, bagaimana nanti dia siap menghadapi kehidupan dunia nyata yang memerlukan ketrampilan berkomunikasi, berdiplomasi, hubungan antar personal, dan lain-lain. Menurut saya, ini pulalah yang menjadi kelemahan alumni yang disatu sisi sangat percaya diri dengan keahliannya, namun lemah dalam hubungan antar personal. Itulah makanya saya sering menyemangati dan menyuruh mahasiswa saya ikut kegiatan di Himpunan mahasiswa dan di Unit-Unit Kegiatan, agar mereka tidak menjadi orang yang kaku, namun menjadi orang yang menyenangkan dan disukai oleh lingkungan tempatnya bekerja dan bertempat tinggal. Orang yang terbaik belum tentu menjadi orang tersukses, sukses dalam hidup itu hal yang lain lagi.

Menurut saya, apa yang dirasakan wisudawan terbaik Amerika itu juga merupakan gambaran sistem pendidikan dasar di negara kita. Anak didik hanya ditargetkan mencapai nilai tinggi dalam pelajaran, karena itu sistem kejar nilai tinggi selalu ditekankan oleh guru-guru dan sekolah. Jangan heran lembaga Bimbel tumbuh subur karena murid dan orangtua membutuhkannya agar anak-anak mereka menjadi juara dan terbaik di sekolahnya. Belajar hanya untuk mengejar nilai semata, sementara kreativitas dan soft skill yang penting untuk bekal kehidupan terabaikan. Sistem pendidikan seperti ini membuat anak didik tumbuh menjadi anak “penurut” ketimbang anak kreatif.

berikut teks dalam bahasa inggeis

by Erica Goldson

Here I stand

There is a story of a young, but earnest Zen student who approached his teacher, and asked the Master, “If I work very hard and diligently, how long will it take for me to find Zen? The Master thought about this, then replied, “Ten years.” The student then said, “But what if I work very, very hard and really apply myself to learn fast – How long then?” Replied the Master, “Well, twenty years.” “But, if I really, really work at it, how long then?” asked the student. “Thirty years,” replied the Master. “But, I do not understand,” said the disappointed student. “At each time that I say I will work harder, you say it will take me longer. Why do you say that?” Replied the Master, “When you have one eye on the goal, you only have one eye on the path.”

This is the dilemma I’ve faced within the American education system. We are so focused on a goal, whether it be passing a test, or graduating as first in the class. However, in this way, we do not really learn. We do whatever it takes to achieve our original objective.

Some of you may be thinking, “Well, if you pass a test, or become valedictorian, didn’t you learn something? Well, yes, you learned something, but not all that you could have. Perhaps, you only learned how to memorize names, places, and dates to later on forget in order to clear your mind for the next test. School is not all that it can be. Right now, it is a place for most people to determine that their goal is to get out as soon as possible.

I am now accomplishing that goal. I am graduating. I should look at this as a positive experience, especially being at the top of my class. However, in retrospect, I cannot say that I am any more intelligent than my peers. I can attest that I am only the best at doing what I am told and working the system. Yet, here I stand, and I am supposed to be proud that I have completed this period of indoctrination. I will leave in the fall to go on to the next phase expected of me, in order to receive a paper document that certifies that I am capable of work. But I contend that I am a human being, a thinker, an adventurer – not a worker. A worker is someone who is trapped within repetition – a slave of the system set up before him. But now, I have successfully shown that I was the best slave. I did what I was told to the extreme. While others sat in class and doodled to later become great artists, I sat in class to take notes and become a great test-taker. While others would come to class without their homework done because they were reading about an interest of theirs, I never missed an assignment. While others were creating music and writing lyrics, I decided to do extra credit, even though I never needed it. So, I wonder, why did I even want this position? Sure, I earned it, but what will come of it? When I leave educational institutionalism, will I be successful or forever lost? I have no clue about what I want to do with my life; I have no interests because I saw every subject of study as work, and I excelled at every subject just for the purpose of excelling, not learning. And quite frankly, now I’m scared.

John Taylor Gatto, a retired school teacher and activist critical of compulsory schooling, asserts, “We could encourage the best qualities of youthfulness – curiosity, adventure, resilience, the capacity for surprising insight simply by being more flexible about time, texts, and tests, by introducing kids into truly competent adults, and by giving each student what autonomy he or she needs in order to take a risk every now and then. But we don’t do that.” Between these cinderblock walls, we are all expected to be the same. We are trained to ace every standardized test, and those who deviate and see light through a different lens are worthless to the scheme of public education, and therefore viewed with contempt.

H. L. Mencken wrote in The American Mercury for April 1924 that the aim of public education is not “to fill the young of the species with knowledge and awaken their intelligence. … Nothing could be further from the truth. The aim … is simply to reduce as many individuals as possible to the same safe level, to breed and train a standardized citizenry, to put down dissent and originality. That is its aim in the United States.”

To illustrate this idea, doesn’t it perturb you to learn about the idea of “critical thinking?” Is there really such a thing as “uncritically thinking?” To think is to process information in order to form an opinion. But if we are not critical when processing this information, are we really thinking? Or are we mindlessly accepting other opinions as truth?

This was happening to me, and if it wasn’t for the rare occurrence of an avant-garde tenth grade English teacher, Donna Bryan, who allowed me to open my mind and ask questions before accepting textbook doctrine, I would have been doomed. I am now enlightened, but my mind still feels disabled. I must retrain myself and constantly remember how insane this ostensibly sane place really is.

And now here I am in a world guided by fear, a world suppressing the uniqueness that lies inside each of us, a world where we can either acquiesce to the inhuman nonsense of corporatism and materialism or insist on change. We are not enlivened by an educational system that clandestinely sets us up for jobs that could be automated, for work that need not be done, for enslavement without fervency for meaningful achievement. We have no choices in life when money is our motivational force. Our motivational force ought to be passion, but this is lost from the moment we step into a system that trains us, rather than inspires us.

We are more than robotic bookshelves, conditioned to blurt out facts we were taught in school. We are all very special, every human on this planet is so special, so aren’t we all deserving of something better, of using our minds for innovation, rather than memorization, for creativity, rather than futile activity, for rumination rather than stagnation? We are not here to get a degree, to then get a job, so we can consume industry-approved placation after placation. There is more, and more still.

The saddest part is that the majority of students don’t have the opportunity to reflect as I did. The majority of students are put through the same brainwashing techniques in order to create a complacent labor force working in the interests of large corporations and secretive government, and worst of all, they are completely unaware of it. I will never be able to turn back these 18 years. I can’t run away to another country with an education system meant to enlighten rather than condition. This part of my life is over, and I want to make sure that no other child will have his or her potential suppressed by powers meant to exploit and control. We are human beings. We are thinkers, dreamers, explorers, artists, writers, engineers. We are anything we want to be – but only if we have an educational system that supports us rather than holds us down. A tree can grow, but only if its roots are given a healthy foundation.

For those of you out there that must continue to sit in desks and yield to the authoritarian ideologies of instructors, do not be disheartened. You still have the opportunity to stand up, ask questions, be critical, and create your own perspective. Demand a setting that will provide you with intellectual capabilities that allow you to expand your mind instead of directing it. Demand that you be interested in class. Demand that the excuse, “You have to learn this for the test” is not good enough for you. Education is an excellent tool, if used properly, but focus more on learning rather than getting good grades.

For those of you that work within the system that I am condemning, I do not mean to insult; I intend to motivate. You have the power to change the incompetencies of this system. I know that you did not become a teacher or administrator to see your students bored. You cannot accept the authority of the governing bodies that tell you what to teach, how to teach it, and that you will be punished if you do not comply. Our potential is at stake.

For those of you that are now leaving this establishment, I say, do not forget what went on in these classrooms. Do not abandon those that come after you. We are the new future and we are not going to let tradition stand. We will break down the walls of corruption to let a garden of knowledge grow throughout America. Once educated properly, we will have the power to do anything, and best of all, we will only use that power for good, for we will be cultivated and wise. We will not accept anything at face value. We will ask questions, and we will demand truth.

So, here I stand. I am not standing here as valedictorian by myself. I was molded by my environment, by all of my peers who are sitting here watching me. I couldn’t have accomplished this without all of you. It was all of you who truly made me the person I am today. It was all of you who were my competition, yet my backbone. In that way, we are all valedictorians.

I am now supposed to say farewell to this institution, those who maintain it, and those who stand with me and behind me, but I hope this farewell is more of a “see you later” when we are all working together to rear a pedagogic movement. But first, let’s go get those pieces of paper that tell us that we’re smart enough to do so!

berikut video ketika acara wisuda
<iframe width="420" height="315" src="//www.youtube.com/embed/9M4tdMsg3ts" frameborder="0" allowfullscreen></iframe>

Senin, 13 Oktober 2014

FAKTA-FAKTA TENTANG HARIMAU

0


Dalam rantai makanan harimau sebagai carnivora (pemakan daging) berada pada piramida paling atas, sehingga tidak heran jika si harimau disebut sebut sebagai raja hutan. Karena habitat alaminya adalah di hutan, sehingga hewan ini paling ditakuti karena alasan tersebut diatas. Banyak yang kagum dengan karakter dan perilaku harimau karena keakuratan dalam berburu, kemampuan bertahan hidup dan keganasannya di hutan. Keunggulan dan keistimewaan ini yang membuat hewan ini di hormati dan sekaligus ditakuti di habitatnya. Agar anda memahami lebih jauh tentang harimau, berikut kami informasikan fakta-fakta menarik tentang harimau.

Penglihatan Harimau 
1. Bentuk pupil harimau yang bulat, tidak seperti pupil kucing yang seperti garis lurus membuktikan bahwa harimau adalah hewan yang aktifitasnya pada siang hari. Sehingga waktu berburu harimau dilakukan pada pagi dan sore hari. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa secara alami harimau bukan hewan Nokturnal (hewan malam)

2. Walaupun penglihatan harimau pada malam hari tidak sebagus kucing, tetapi masih lebih baik dari penglihatan manusia, penglihatan harimau 6 kali lebih baik dari penglihatan manusia. Beberapa kasus masuknya harimau ke perkampungan karena habitat alaminya terancam biasanya harimau tidak menyerang secara brutal dan membabi buta, tetapi harimau bersembunyi diluar kampung dan menyerang manusia yang sendirian pada saat petang atau menjelang malam. Waktu penyerangan pada saat petang karena pada saat itu penglihatan manusia kurang awas.

3. Secara umum warna mata pada harimau adalah kuning, kecuali harimau putih yang memiliki warna mata biru karena gen mata menyesuaikan gen pada bulunya yang putih.

4. Bayi bayi harimau tidak dapat melihat (buta) pada minggu pertama kelahiran.

5. Penglihatan harimau seperti pada penglihatan manusia, sehingga harimau bisa membedakan warna.

Kekuatan Harimau
1. Harimau adalah hewan yang pandai berenang. Sehingga tidak heran jika harimau bisa berenang sejauh puluhan kilometer untuk mendapatkan mangsa.

2. Kecepatan lari harimau bisa mencapai 60 Km/jam untuk jarak tempuh yang pendek.

3. Kemampuan melompat harimau bisa mencapai 6 meter jauhnya dan ketinggian 5 meter.

4. Harimau memiliki kemampuan untuk meniru suara panggilan hewan lain sehingga mangsa tertarik dan mendekat. Hal ini seperti yang disampaikan oleh Animal Planet.

5. Seperti hewan pemangsa lainnya, biasanya harimau membunuh mangsanya dengan mencekik leher dan memutuskan arteri pada leher hewan mangsa. Jika hewan mangsa masih hidup biasanya harimau akan membawanya sampai si mangsa mati. Memutus arteri pada leher hewan mangsa adalah strategi yang cerdik, karena dengan putusnya arteri pada leher akan mempercepat hewan mangsa mati, disisi lain pada bagian leher adalah bagian yang paling lunak hewan mangsa.

6. Harimau memiliki kaki belakang yang kuat yang memampukannya untuk berlari cepat. Selain kaki belakang yang kuat harimau juga memiliki cakar yang dapat menghancurkan tengkorak beruang hanya sekali tebas.

7. Seperti kucing, daya ingat (memori) harimau sangat kuat. Memori jangka pendek harimau bisa menyimpan 30 puluh kali lebih kuat dari manusia, dan ratusan kali dibanding simpanse. Harimau tidak mudah lupa pada apa yang dia alami, akan apa yang terjadi.

8. Berat otak harimau sekira 300 gram. Ini adalah otak terbesar dari semua karnivora kecuali beruang kutub.

9. Dalam berburu Harimau memiliki kemampuan beradaptasi. Ketika mendapatkan mangsa maka harimau akan menggigit bagian leher mangsa agar cepat mati. Harimau juga termasuk hewan yang pandai berenang. Saat berenang di sungai dan bertemu dengan buaya maka harimau akan mencocok mata buaya sampai buta dan membalikkan badan buaya sampai bisa mengeluarkan isi perut buaya. Hal ini dikarenakan bagian perut buaya adalah bagian tubuh yang paling lunak. Dan tidak memungkinkan bagi harimau menggigit leher buaya karena dilindungi dengan kulit yang tebal.

10. Liur dari harimau adalah antiseptik sehingga saat harimau terluka maka cukup hanya menjelati luka tersebut maka luka menjadi lekas sembuh karena air liur harimau juga sebagai desinfektan.

11. Pada bagian lidah harimau terdapat bulu bulu berdaging. Fungsinya saat mendi dan menjilati tubuhnya maka sekaligus menyisir bulu bulu tersebut.

Interaksi Harimau dalam Komunitasnya.
1. Secara alami harimau jarang mengaum atau mengeluarkan suaranya, mereka hanya mengaum hanya saat berkomunikasi dengan harimau lain.

2. Batas wilayah atau teritori dari harimau dilakukan dengan menggores pohon pohon dan pohon tersebut di kencingi. Dengan mencium aroma urine maka itu adalah batas wilayahnya.

3. Dengan mencium aroma urine maka harimau lain bisa mengetahui usia dan jenis kelamin dan kondisi reproduksi harimau lainnya.

4 Wilayah harimau jantan lebih luas dari harimau betina. Tiap tiap harimau memiliki wilayahnya sendiri sendiri dan tidak pernah satu kawasan dikuasai oleh harimau lain.

5. Harimau jantan sebagai pelindung keluarga. Harimau jantan selalu menunggu betina dan anak anaknya makan hasil buruan terlebih dahulu. Keandan ini berbeda dengan perilaku singa.

6. Harimau betina memiliki masa subur dalam hitungan hari dalam satu tahun yaitu masa subur antara 4-5 hari saja sepanjang tahun. Pada saat itu maka kelompok harimau melakukan musim kawin. Jika harimau betina dibuahi maka akan hamil selama 3 bulan dan melahirkan sekitar 2-3 anak harimau.

Kemampuan Berburu Harimau

1. Pada umumnya dari 10 kali perburuan biasanya baru satu yang membuahkan hasil bagi seekor harimau. Tidak jarang harimau pergi selama beberapa hari tanpa makan sebelum akhirnya sukses mendapatkan buruannya.

2. Harimau adalah termasuk hewan yang tidak tahan terhadap rasa lapar, hal ini mungkin karena ukuran tubuhnya yang besar. Umumnya harimau akan mati karena kelaparan jika tidak makan salam waktu 2-3 minggu.

3. Dalam berburu biasanya dilakukan sendiri, keadaan ini juga tergantung dari ukuran hewan yang diburu. Jika ukuran hewan buruannya besar maka mereka melakukan pola penyergapan bersama kawanannya. Harimau juga termasuk hewan yang suka menyergap saat berpapasan dengan harimau lain di hutan, Dan jarang sekali menyerang manusia jika tidak terancam.

Persilangan Harimau saat perkawinan

1. Di penangkaran, harimau bisa kawin dengan singa atau kucing lain. Jika perkawinan terjadi antara Singa jantan dan harimau betina maka akan menghasilkan keturunan dengan ukuran besar yang disebut dengan Ligers. Sedangkan jika terjadi perkawinan antara harimau jantan dan singa betina maka akan menghasilkan jenis Tiglon yang memiliki ukuran tubuh yang lebih kecil.

2. Jenis Ligers bisa tumbuh dengan ukuran 4 meter. Sehingga wajar jika jenis Liger dinobatkan sebagai kucing terbesar di dunia.

Fakta lainnya tentang Harimau
1. Dari semua jenis kucing maka harimau termasuk yang terbesar. Harimau Siberia bisa memiliki ukuran sampai 3,5 meter panjangnya dan berat tubuhnya bisa 300 Kg. Sementara harimau Sumatra memiliki ukuran tubuh 2 meter dengan bobot 100 Kg.

2. Garis garis pada tubuh harimau berbeda beda sehingga dengan melihat bentuk dan pola garis garis pada tubuh harimau bisa mengidentifikasi spesies. Fungsi garis garis pada tuhuh harimau seperti sidik jari pada manusia.

3. Di dunia saat ini hanya ada enam subspesies dari harimau yaitu harimau Siberia (Panthera tigris Altai a), harimau China Selatan (Panthera tigris amoyensis), harimau Indocina (Panthera tigris corbetti), harimau Malaya (Panthera tigris jacksoni), harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae), dan harimau Bengal (Panthera tigris tigris).

4. Sedangkan ada tiga subpesies harimau yang sudah punah yaitu harimau bali (Panthera tigris balica), harimau jawa (Panthera tigris sondaica), dan harimau kaspia (Panthera tigris virgata).

5. Menurut hasil konservasi para peneliti diperkirakan di alam liar hanya ada sekitar 3.500 harimau saja.

6. Masa hidup harimau bisa sampai berusia 25 tahun baik dipenangkaran maupun di alam liar.

Selasa, 09 September 2014

Tujuh Keajaiban Dunia

0



Sekelompok murid ditugaskan untuk membuat daftar tentang segala sesuatu yang mereka anggap sebagai tujuh keajaiban dunia. Meskipun terjadi beberapa ketidaksepakatan, namun kebanyakan murid membuat daftar sebagai berikut:

1. Piramid di Mesir

2. Taj Mahal

3. Grand Canyon

4. Terusan Panama

5. Empire State Building

6. St. Peter’s Basilica

7. Tembok Cina

Ketika mengumpulkan kertas para murid, Pak Guru memperhatikan ada seorang murid perempuan yang belum menyerahkan daftarnya, lalu ia bertanya apakah ia mengalami kesulitan dalam menyusun daftarnya.

Murid perempuan itu menjawab, “Ya, ada kesulitan sedikit. Aku tidak bisa memutuskan mana yang harus kudaftar. Ada begitu banyak keajaiban.”

Pak Guru berkata, “Jika demikian, bacakan kepadaku apa-apa yang telah kau catat, mungkin nanti aku bisa membantumu.”

Murid itu ragu sejenak, tapi kemudian membacakan daftarnya, “Menurutku, tujuh keajaiban dunia adalah:

1. Menyentuh

2. Merasakan

3. Melihat

4. Mendengar

Ia ragu sejenak lalu menambahkan:

5. Meraba

6. Tertawa

7. Dan Mencintai”

Ruang kelas menjadi begitu sunyi sehingga suara jarum jatuh pun dapat terdengar.

***

Kegiatan yang sering kita abaikan, kita anggap sepele, dan biasa sesungguhnya merupakan kegiatan yang menajubkan. Ini adalah peringatan bahwa, hal-hal yang paling berharga dalam kehidupan adalah hal-hal yang tidak dapat kita beli.

Kamis, 14 Agustus 2014

Nilai Sejati

0


Seorang pembicara terkenal memulai seminarnya dengan memegang uang $100 dalam ruang yang berisi 200 orang.

“Siapa yang mau uang $100 ini?” tanyanya kepada peserta seminar.

Semua tangan terangkat ke atas.

“Aku akan memberikan uang ini kepada salah seorang dari kalian, tapi biar aku beginikan dulu….,” katanya sambil membuat kusut uang itu.

Setelah uang itu benar-benar kusut, ia bertanya lagi, “Siapa yang masih menginginkan uang ini?”

Semua tangan mengacung ke atas.

“Nah…,” kata si pembicara, “bagaimana kalau aku beginikan?”

Ia menjatuhkan uang itu ke lantai lalu menggilas-gilas dengan sepatunya. Setelah uang itu benar-benar kusut dan kongtor, ia mengambilnya.

“Nah, sekarang siapa yang masih menghendaki uang ini?,” tanya si pembicara.

Tangan-tangan masih mengacung ke atas.

“Sahabat-sahabatku, kalian semua telah mempelajari sesuatu pelajaran penting. Apapun yang kulakukan terhadap uang ini, kalian masih menginginkannya, karena uang ini tidak berkurang nilainya. Ia masih tetap $100,” jelas si pembicara.

*****

Berulang kali dalam hidup ini, kita jatuh, kusut, dan tergilas dalam kotoran akibat keputusan yang kita ambil sendiri, atau keadaan yang menghalangi kita. Kita merasa seakan-akan tidak berharga lagi. Namun, apapun yang telah dan akan terjadi, kalian tidak pernah kehilangan nilai kalian.

Kotor… bersih… kusut… atau rapi, kalian masih tetap berharga di mata orang-orang yang mencintai kalian.

Kalian adalah istimewa… jangan lupakan itu.

Hitunglah berbagai nikmat yang telah kalian terima selama ini, jangan hanya hitung problem kalian.

Selasa, 12 Agustus 2014

Kehidupan Di Desa

0



Suatu hari seorang ayah dari keluarga yang sangat kaya membawa anaknya ke desa untuk menunjukkan kepadanya kehidupan orang-orang miskin. Mereka tinggal beberapa hari di rumah seorang petani miskin. Sekembalinya dari desa, sang ayah bertanya kepada anaknya, “Bagaimana menurutmu perjalanan kita ini?”

“Hebat, Ayah,” kata anaknya.

“Apakah kau melihat bagaimana orang-orang miskin itu hidup?”

“Ya.”

“Lalu pelajaran apa yang dapat kau ambil dari perjalanan itu?” tanya ayahnya dengan bangga.

“Aku baru sadar bahwa kita punya dua anjing sedangkan mereka punya empat. Kita punya kolam renang yang luasnya sampai tengah kebun, sedang mereka mempunyai sungai yang tak memiliki ujung. Kita mengimpor lentera untuk kebun kita, mereka memiliki bintang-bintang di malam hari. Teras kita sampai halaman depan, sedang mereka memiliki seluruh Horizon. Kita memiliki tanah tempat tinggal yang kecil, mereka memiliki halaman sejauh mata memandang. Kita mempunyai pembantu-pembantu yang melanyani kita, sedang mereka memberikan pelayanan kepada orang lain. Kita membeli makanan kita, mereka memetik sendiri makanan mereka. Kita memiliki pagar yang mengelilingi dan melindungi kekayaan kita, mereka memiliki teman yang melindungi mereka.”

Sampai disini, sang ayah tak bisa berkata apa-apa. Kemudian anaknya menambahkan, “Ayah, terimah kasih, engkau telah menunjukkan betapa miskinnya kita.”

***

Kita sering kali lupa pada segala yang kita meliki dan memusatkan perhatian hanya pada apa-apa yang tidak kita miliki.

Benda-benda yang tidak berniali di mata kita bisa jadi merupakan barang berharga di mata orang lain. Semua itu tergantung pada perspektif seseorang. Banyangkan apa yang terjadi bila kita semua mensyukuri karunia yang telah kita peroleh daripada merasa gelisah karena menghendaki lebih banyak.

Nikmatilah segala yang telah kau miliki, perhatikan kekayaan (nilai) yang terkandung di dalamnya.

Senin, 11 Agustus 2014

Orang Paling Kaya

0



Seorang tuan tanah kaya bernama Carl sering mengendarai kuda mengelilingi perkebunannya yang amat luas dan mengagumi dirinya sendiri atas kekayaannya yang luar biasa.

Suatu hari ketika sedang mengendarai kuda kesanyangannya ia bertemu Hans, petani tua penyewa tanahnya yang sedang duduk di bawah pohon.

“Sedang apa kau?” tanya Carl.

“Aku sedang bersyukur kepada Tuhan atas makanan yang diberikan-Nya kepadaku,” jawab Hans.

“Kalau hanya makanan seperti itu, aku tak perlu harus bersyukur kepada Tuhan,” sanggah Carl.

“Tuhan telah memberiku semua yang kubutuhkan, dan aku merasa bersyukur.” Petani itu kemudian menambahkan, “Aneh sekali kau mampir kemari hari ini. Sebab, tadi malam aku bermimpi, ada suara yang memberitahuku bahwa nanti malam, orang paling kaya di lembah ini akan meninggal dunia. Aku tidak tahu maksud mimpi itu, tapi rasanya aku harus memberitahumu.”

Carl mendengus lalu berkata, “Semua mimpi itu bohong.” Kemudian ia mencoklang kudanya.

Ucapan Hans tadi terus menerus terniang di telinganya. “Orang paling kaya di lembah ini akan mati malam ini.” Jelas sekali bahwa orang paling kaya di lembah ini adalah dia. Malam itu ia mengundang dokter pribadinya, dan menceritakan kepadanya apa yang dikatakan oleh Hans.

Setelah meneliti benar-benar kesehatannya, dokter berkata kepada tuan tanah yang kaya itu, “Pak Carl, Anda sekuat dan sesehat seekor kuda. Tak ada alasan bagimu untuk mati malam ini.”

Meskipun demikian, untuk meyakinkannya, dokter itu tetap tinggal di rumahnya sepanjang malam sambil bermain kartu. Keesokan harinya Carl minta maaf kepada dokter atas kekhawatirannya pada mimpi petani tua itu. Dokter pun kemudian meninggalkan rumahnya.

Kira-kira jam 09:00, seorang pesuruh datang ke rumah Carl. “Ada berita apa?” tanya Carl.

“Ini tentang pak tua Hans,” kata orang itu. “Ia meninggal dunia dalam tidurnya tadi malam.”

Jumat, 08 Agustus 2014

Ini Adalah Sesuatu Yang Baik

0


Sehubungan dengan usah untuk memelihara sikap yang baik dalam keadaan sulit, aku pernah mendengar cerita tentang seorang raja di Afrika yang memiliki seorang sahabat karib sejak masa kecilnya. Sahabat raja ini mempunyai kebiasaan untuk mengucapkan, “Ini adalah sesuatu yang baik” atas semua peristiwa yang terjadi, baik maupun buruk.

Suatu hari, raja dan sahabatnya ini keluar untuk berburu. Seperti biasa, sahabatnya menyiapkan senjata dan mengisi amunisi. Kali ini, temannya melakukan kesalahan dalam menyiapkan amunisi sehingga sang raja secara tidak sengaja menembak ibu jarinya sendiri (karena mengira senjata itu tidak berpeluru). Ibu jari raja terluka parah.

Sahabatnya segera mengamati keadaan ibu jari raja, kemudian berkata, “Ini adalah sesuatu yang baik.” Raja menyanggah, “Tidak . . . tidak . . . ini bukan sesuatu yang baik!” Lalu ia memenjarakan sahabatnya.

Setahun kemudian, sang raja pergi berburu. Ia memasuki suatu daerah yang seharusnya ia jauhi. Sekelompok kanibal (pemangsa manusia) menangkap dan membawanya ke desa mereka. Mereka mengikat tangannya, menyiapkan kayu bakar, memancangkan tiang dan mengikat raja di tiang itu. Ketika hendak membakar kayu, mereka melihat ibu jari raja tidak utuh. Karena kepercayaan mereka terhadap takhayul, bahwa tidak boleh memakan seseorang yang tidak utuh. Mereka lalu melepaskan ikatan raja dan membiarkannya pergi.

Sesampainya di kerajaan, sang raja teringat akan kejadian yang membuatnya kehilangan ibu jari. Ia merasa sangat menyesal atas perlakuannya terhadap sahabatnya. Ia lalu bergegas ke penjara menemui temannya.

“Engkau benar,” katanya, “Ibu jariku tertembak adalah sesuatu yang baik.”

Ia lalu menceritakan kejadian yang belum lama dialaminya.

“Aku menyesal sekali telah memenjarakanmu sangat lama. Sungguh perbuatanku ini sangat buruk,” kata raja penuh penyesalan.

“Tidak,” kata temannya, “Itu adalah sesuatu yang baik!”

“Apa maksudmu?!? Bagaimana mungkin itu adalah sesuatu yang baik sedang aku memenjarakan sahabatku sendiri selama setahun?!?,” kata raja keheranan.

“Kalau aku tidak berada dalam penjara, aku pasti saat itu akan bersamamu . . . dan dimakan oleh para pemangsa manusia itu!” kata temannya.